arti kata retorika

Pada saat ini sering sekali kita mendengar istilah “retorika”, istilah ini serasa tak asing dalam kehidupan kita. Khususnya bagi para pemerhati dunia politik di Indonesia ini. Orang-orang yang berbicara di depan layar kaca sering kali menggunakan istilah-istilah serapan. Menurut saya, pengguna kata-kata serapan ini di bagi menjadi 3 golongan, golongan 1.orang yang benar-benar tahu arti dan maksuda dari kata “retorika”, 2.orang yang sekedar tahu saja namun sering mengaplikasikanya dengan benar, 3. untuk sekedar dapat memperindah tata bahasanya dan mempertebal gaya bahasa seseorang,4.orang yang suka menggunakan istilah serapan agar seseorang yang bodohpun terlihat cerdas.
Penggunaan istilah-istilah serapan inipun dapat menggiring masyarakat untuk menggunakanya pada kehidupan berinteraksi antar sesama sehari-hari. Namun seringkali penggunaan istilah ini tidak tepat guna, beberapa orang yang masuk kategori keempat hanya asal comot dan asal pakai istilah “retorika” ini walaupun pada aplikasinya orang dengan kategori ketiga ini masih salah-salah dan hanya kepercayaan diri saja yang membuat pembawaan orang tersebut adalah benar.
Tentu saja tidak ada yang salah dengan semua ini, mungkin untuk kedepanya perlu ada pengetahuan lebih tentang arti kata retorika. Seperti yang tertera dibawah ini.
Retorika (dari bahasa Yunani ῥήτωρ, rhêtôr, orator, teacher) adalah sebuah teknik pembujuk-rayuan secara persuasi untuk menghasilkan bujukan dengan melalui karakter pembicara, emosional atau argumen (logo), awalnya Aristoteles mencetuskan dalam sebuah dialog sebelum The Rhetoric dengan judul ‘Grullos’ atau Plato menulis dalam Gorgias, secara umum ialah seni manipulatif atau teknik persuasi politik yang bersifat transaksional dengan menggunakan lambang untuk mengidentifikasi pembicara dengan pendengar melalui pidato, persuader dan yang dipersuasi saling bekerja sama dalam merumuskan nilai, keprcayaan dan pengharapan mereka. Ini yang dikatakan Kenneth Burke (1969) sebagai konsubstansialitas dengan penggunaan media oral atau tertulis, bagaimanapun, definisi dari retorika telah berkembang jauh sejak retorika naik sebagai bahan studi di universitas. Dengan ini, ada perbedaan antara retorika klasik (dengan definisi yang sudah disebutkan diatas) dan praktek kontemporer dari retorika yang termasuk analisa atas teks tertulis dan visual.
Dalam doktrin retorika Aristoteles [1] terdapat tiga teknis alat persuasi politik yaitu deliberatif, forensik dan demonstratif. Retorika deliberatif memfokuskan diri pada apa yang akan terjadi dikemudian bila diterapkan sebuah kebijakan saat sekarang. Retorika forensik lebih memfokuskan pada sifat yuridis dan berfokus pada apa yang terjadi pada masa lalu untuk menunjukkan bersalah atau tidak, pertanggungjawaban atau ganjaran. Retorika demonstartif memfokuskan pada epideiktik, wacana memuji atau penistaan dengan tujuan memperkuat sifat baik atau sifat buruk seseorang, lembaga maupun gagasan.( sumber : wikipedia)

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.