Kamu adalah Logika yang indah…

Bagiku kamu adalah Spirit, walaupun orang anggap logikaku sempit…
Bagiku kamu adalah estetis, walaupun orang akan mencibirku habis…
Bagiku kamu adalah misteri yang terang melawan garis imaji…
dan…
bagiku,,kamu adalah seni tertinggi, walaupun hanya sedikit bisa dipahami…
kamu adalah ilusi terindah bagiku,,sekarang ataupun nanti…

Ritual “Pa’ tomate”, Mengantar Roh ke “Puya”

Sabtu, 1 Mei 2010 | 04:59 WIB

Oleh Pingkan Elita Dundu

Lantunan doa mengalun dalam irama monoton, menemani jenazah Uyung Kariwangan, Ketua Adat Dusun Kanan, Desa Puangbembe Mesakada, Kecamatan Simbuang, Kabupaten Tana Toraja.

Selama 18 hari mulai pukul 20.00 Wita hingga subuh, menjelang upacara penguburan, keluarga, warga, dan para pelayat yang semuanya berbusana hitam bergantian berdoa mengitari jenazah.

Mereka bergerak ke kanan, searah jarum jam. Siapa saja boleh ikut berdoa, yang tidak ikut berdoa tetap duduk di ruang yang sama. Ketika ada yang kelelahan dan keluar dari barisan pendoa, pelayat atau keluarga yang duduk menggantikan melantunkan doa dalam irama ritmis dan tanpa alat musik apa pun.

Selama doa didaraskan, tiada suara lain terdengar. Burung malam dan jangkrik membisu, membiarkan tirai kesedihan bergayut di rumah duka.

Kegiatan itu disebut ma’badong, yakni kesenian penghiburan dalam ritual kematian. Tanpa kata-kata, hanya gumam memilukan. Inti dari ma’badong adalah puji-pujian dan doa untuk mengantar perjalanan roh ke puya (surga).

Sebelum ma’badong, pendeta dan para sesepuh memutuskan berapa kerbau yang akan dipotong. Jika belum ada keputusan, ma’badong tidak dapat terlaksana.

Uyung meninggal dunia pada 8 November 2009 di usia 110 tahun. Ia adalah keturunan terakhir parenge (bangsawan) keturunan Pana yang menganut Aluk Todolo atau kepercayaan leluhur.

Upacara penguburan sebesar penghormatan untuk Uyung berlangsung 30 tahun lalu, yakni untuk upacara ibunda Uyung.

Upacara penguburan semegah itu hanya untuk keluarga bangsawan. Namun, sejak tahun 1980-an, mereka yang kaya pun boleh menggelar upacara serupa. Akan tetapi, tanpa perhitungan hari baik dan meniadakan beberapa kewajiban, seperti ma’dulang atau memberi makan jenazah secara bergiliran. Upacara demikian hanya untuk orangtua, pahlawan, dan pelindung masyarakat.

”Tidak pernah ada ritual pa’tomate bagi anak muda yang meninggal dunia,” kata Musni Lampe, antropolog lulusan Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, yang kini mengajar Antropologi di Universitas Hasanuddin, Makassar.

Ritual itu juga tidak berlaku bagi warga biasa. Apalagi untuk menyelenggarakan upacara penguburan demikian besar perlu biaya tinggi. Untuk upacara yang sangat sederhana, minimal menghabiskan dana Rp 50 juta.

Namun, untuk Uyung, tidak kurang dari Rp 500 juta. Rinciannya, selama 18 hari memotong 200 babi dan 11 kerbau. Jika harga seekor babi menghabiskan dana Rp 1 juta, berarti untuk babi saja Rp 200 juta.

Harga seekor kerbau Rp 20 juta sehingga total dana Rp 220 juta. Di luar itu, keluarga menyediakan makanan bagi para tetamu, termasuk menyediakan kopi dan rokok.

Ketika Uyung meninggal, para pendeta mencari tanggal penguburan yang terbaik. Dari hasil penghitungan bulan, mereka sepakat waktu terbaik untuk menguburkan jenazah Uyung adalah Selasa, 16 Maret 2010. Selama empat bulan, jenazah Uyung disemayamkan di rumah tinggal almarhum milik leluhur yang berusia 300 tahun. Walau tanpa formalin, jenazah Uyung tidak mengeluarkan bau.

Jasadnya hanya mengering dan tetap utuh karena dibungkus kain belacu dan dimasukkan ke duni atau potongan kayu pinus yang tengahnya berlubang. Seluruh cairan tubuhnya atau borro menempel di kain belacu.

Sabtu, 13 Maret, jenazah dibuka lalu keluarga terdekat merangkap petugas pengurus jenazah, Solon (60) dan dua anaknya, membalur jasad Uyung dengan ramuan dari tetumbuhan. Sembari membungkus jenazah atau ma’bukku, Solon mengucapkan doa agar bau busuk jenazah berpindah jauh ke dalam hutan.

Solon membungkus jasad Uyung dengan puluhan kain sambu, kain tenun khas Mamasa dan Tana Toraja asal Simbuang. Ia menyelipkan pakaian kesayangan almarhum dan perhiasan emas.

Jasad Uyung terbungkus hingga mirip guling sepanjang 1,75 meter berdiameter 0,50 meter. Prosesi ma’bukku berlangsung tiga jam, mulai pukul 09.00 hingga berakhir pukul 12.00 Wita.

Duni dan kain belacu dikuburkan di bawah pohon leluhur, sejenis pohon karet, yang berjarak 15 meter dari rumah.

Sebagai penanda almarhum seorang bangsawan, di atas kuburan duni dan kain belacu ditanam tiga pohon. Pohon sendana ditanam tangkainya, pohon lamba ditanam tunasnya, dan pohon tabang ditanam dengan setek.

Adapun bungkusan jenazah ditaruh di baruka, rumah beratap alang-alang yang dibuat seminggu sebelum jenazah diturunkan.

Senin, 15 Maret, berlangsung ma’pasitanduk tedong atau adu kerbau. Kerbau tersebut sumbangan dari penduduk dusun, desa, dan kecamatan lain sebagai pemberian balasan atas utang tak tertagih yang pernah diberikan almarhum semasa hidupnya.

Setelah itu, ritual pemotongan kerbau yang didahului dengan mebaba tedong atau mengucapkan doa pemotongan kerbau. Ada sembilan kerbau yang dipotong, semuanya harus ditombak terlebih dulu baru kemudian lehernya ditebas.

”Kerbau tidak boleh disembelih sebelum ditombak. Kalau sudah terkena tombak, meski tidak terluka, kami boleh menyembelihnya dengan parang,” kata Paulus Pasauk, pemimpin upacara pemotongan kerbau.

Sehari kemudian, enam orang menggotong jenazah ke liang jenazah di goa batu sejauh tiga kilometer dari rumah. Mereka seolah berlari, melewati jalan kecil dan licin lagi naik turun, meninggalkan para pelayat. Selesai penguburan, seluruh pengantar kembali ke rumah duka sebelum kembali ke rumah masing-masing.

Mereka kembali memotong kerbau untuk makanan bersama. Untuk menandai usainya masa berkabung, semua keluarga dekat wajib mandi bersama di sungai, lalu makan nasi putih berlauk daging kerbau dari kerbau terakhir.

Penguburan Uyung menandai berakhirnya keluarga bangsawan keturunan Pana yang masih memeluk Aluk Todolo.

Ada keluarga bangsawan lain, tetapi mereka kini menganut agama samawi. Mereka yang bukan penganut Aluk Todolo tidak boleh menjalani upacara pa’tomate, kecuali mungkin jika ada lagi bangsawan yang beralih sebagai penganut Aluk Todolo

INDONESIA PUNYA TALENTA

Baresi: Indonesia Punya Talenta
Milan Buka Peluang untuk Pemain Muda Indonesia

Sabtu, 1 Mei 2010 | 05:22 WIB

Jakarta, Kompas – Legenda hidup klub sepak bola Italia AC Milan, Franco Baresi, mengaku cukup terkejut dengan sambutan hangat yang diterimanya selama berada di Jakarta. Kapten tim Italia di Piala Dunia 1994 ini juga antusias untuk memulai kegiatan Milan Junior Camp.

Baresi datang ke Jakarta dalam rangka sosialisasi penyelenggaraan Milan Junior Camp di Bali, 12 Juni-10 Juli mendatang. Baresi, yang pernah menjadi pelatih tim yunior Milan, bicara sangat antusias tentang pembinaan pemain muda.

Dalam wawancara khusus dengan Kompas, Jumat (30/4) siang di Gedung Kompas Gramedia Jakarta, Baresi, yang kini menjadi duta AC Milan, bicara santai bukan hanya soal Milan Junior Camp, melainkan juga kondisi Milan dan masa depan klub yang telah dibelanya selama 20 tahun.

Bagaimana Anda melihat Mi- lan sekarang ini?

Secara tim kami masih cukup kompetitif. Namun, tim lain lebih kuat dan mereka lebih berani ekspansi untuk mencari pemain-pemain matang. Materi kami sendiri sebenarnya tidak terlalu buruk, tetapi masalah cedera pemain membuat kami menjadi kurang bisa bersaing. Leonardo (Pelatih AC Milan) sudah bekerja sangat baik. Kami tidak pernah menyalahkan pelatih atau pemain dengan kondisi tim saat ini.

Bagaimana sebenarnya kebijakan transfer Milan?

Kondisi keuangan klub memang agak kurang menguntungkan. Kami melepas beberapa pemain bintang dan ini yang tidak akan kami lakukan lagi pada masa depan, seperti yang sudah ditegaskan Wakil Presiden Klub Adriano Galliani.

Bagaimana dengan masa depan Milan?

Kami selalu optimistis karena pemilik Milan selalu punya ambisi untuk menjadikan Milan sebagai klub yang kompetitif. Musim depan kami akan mencari beberapa pemain hebat.

Bagaimana regenerasi pemain Milan?

Kami punya akademi dan tim yunior. Program kami berjalan dengan baik dan sudah ada kandidat beberapa pemain yang siap masuk ke tim senior.

Konsep apa yang Anda tawarkan?

Milan Junior Camp Bali 2010 merupakan sarana bagi anak- anak Indonesia untuk mempelajari teknik atau strategi mengenai sepak bola secara menyeluruh. Anak-anak ini nantinya akan dilatih langsung oleh pelatih-pelatih dari AC Milan. Milan Junior Camp merupakan perwujudan dari arti di balik warna seragam merah dan hitam yang dulu saya kenakan, yaitu perasaan bangga, semangat, komitmen, keberanian, dan talenta.

Kami juga membuka kesempatan pelatihan dalam jangka panjang di Italia yang nantinya menghasilkan pemain profesional yang bermain di Liga Eropa. Saya yakin, di Indonesia ada pemain yang bertalenta.
nih buat semuanya ayo bangkit dan niat buat ngebangun talenta-talenta kayak gini…
pastio indonesia bakalan makin berjaya…

kagum tanpa definisinya

Kamu hanya bayang maya,,,yang hilang dalam sekejap mata…
Kamu hanya fikiran absurb tak nyata,,,yang tiba-tiba datang tanpa berkata-kata
Kamu hanya sebuah euforia,,,yang lalu lalang bagai fatamorgana
Kamu hanya pangkal putus asa,,,yang mengubah hati tanpa selera dan mengubah rasa menjadi senjata…
Untuk mati bunuh diri…

Kamu hanya logika ekstreem tanpa dicerna,,,yang selalu merasa berharga…
Kamu hanya deskiptif meta,,yang tak mungkin menjadi nyata…
Dan…
Kamu hanya limbah di otak bercampur dosa,yang inginkan kasih tapi menutup mata…
Agar semua mati bunuh diri

(Masih paada hal kagum yang belum terdefinisikan artinya…)

Now without

Jalan belum sebenderang sebelum aku menunggunya di bangku taman…
Menggandeng dedaunan yang kutanya apa tujuan,,,
Menyentuh akar-akar yang luruh dihempaskan,,,dan,,,
Membuai serbuk-serbuk yang tak sempat berterbangan…
Setahuku,,,
Ketika melenguh suaraku dan sesak terdengar bahwa,,,
aku adalah intonasi tanpa definisi dari sepercik hatinya…
aku adalah sensasi yang bersandar di alir nadinya…
dan,,,
aku adalah pengagum yang penuh halusinasi…
yang inginkan obsesi tanpa memandang diri…
benar-salah, hitam-putih yang disalahi…

(dari sebuah refleksi)

Baca lebih lanjut

Kebudayaan

BAB I
PENDAHULUAN
Kebudayaan dan Masyarakat
Kebudayaan, cultuur dalam bahasa Belanda dan culture dalam bahasa Inggris, 0berasal dari bahasa Latin “colore” yang berarti mengolah, mengerjakan, menyuburkan dan mengembangkan. Dari pengertian budaya dalam segi demikian berkembanglah arti culture sebagai “segala daya dan aktivitet manusia untuk mengolah dan mengubah alam”. Untuk membedakan pengertian istilah budaya dan kebudayaan, Djoko Widaghdo (1994),
memberikan pembedaan pengertian budaya dan kebudayaan, dengan mengartikan budaya.
Masyarakat adalah orang yang hidup bersama yang menghasilkan kebudayaan. Tak ada masyarakat yang tidak memiliki kebudayaan dan sebaliknya tak ada kebudayaan tanpa masyarakat sebagai wadah dan pendukungnya. Cultural Determinism berarti segala sesuatu yang terdapat di dalam masyarakat ditentukan adanya oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu.
Menurut Koentjaraningrat (1974), menyatakan bahwa kebudayaan terdiri atas tiga
wujud:
Wujud pertama, adalah wujud yang ideal dari kebudayaan. Sifatnya abstrak tak dapat, tak dapat diraba. Lokasinya ada dalam alam pikiran dari warga masyarakat dimana kebudayaan yang bersangkutan itu hidup. Kebudayaan ideel ini dapat kita sebut adat tata kelakuan, atau adat istiadat dalam bentuk jamaknya.
Wujud kedua, dari kebudayaan yang sering disebut sistem sosial, menganai kelakuan berpola dari manusia itu sendiri. Sistem sosial ini terdiri dari aktivitas-aktivitas manusia yang berinteraksi, berhubungan serta bergaul satu dengan lain menurut pola-pola tertentu yang berdasarkan adat tata kelakuan.
Wujud ketiga, dari kebudayaan disebut kebudayaan fisik, yaitu berupa seluruh total dari hasil fisik dan aktivitas, perbuatan dan karya semua manusia dalam masyarakat. Di atas telah dijelaskan bahwa kebudayaan merupakan keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia untuk memenuhi kehidupannya dengan cara belajar, yang semuanya tersusun dalam kehidupan masyarakat. Konsepsi tersebut dapat dirinci sebagai berikut:
1. Bahwa kebudayaan adalah segala sesuatu yang dilakukan dan dihasilkan manusia. Karena itu meliputi:
a. Kebudayaan material (bersifat jasmaniah), yang meliputi benda-benda ciptaan manusia.
b. Kebudayaan non material (bersifat rohaniah), yaitu semua hal yang tidak dapat dilihat dan diraba, misalnya religi (walau tidak semua religi ciptaan manusia).
2. Bahwa kebudayaan itu tidak diwariskan secara generatif (biologis), melainkan hanya mungkin diperoleh dengan cara belajar.
3. Bahwa kebudayaan itu diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat. Tanpa masyarakat akan sukarlah bagi manusia untuk membentuk kebudayaan. Sebaliknya tanpa kebudayaan tidak mungkin manusia baik secara individual maupun masyarakat, dapat mempertahankan kehidupannya.
Komponen-komponennya (unsur-unsur kebudayaan) diantaranya politik, ekonomi, sosial, teknologi, transportasi, komunikasi, dan religi. Komponen ini merupakan bagian dari sistem kebudayaan yang tak terpisahkan, dan bingkainnya (boundary cultural system) adalah supranatural. Bagaimana manusia mengkreasi semua ini (how to create), akan berbeda antara kelompok yang satu dengan lainnya, sebagai contoh: Masyarakat Nelayan Pantai Utara Jawa berbeda dengan Pantai Selatan Jawa dalam menciptakan perahu. Perahu masyarakat Pantai Utara dibangun dengan papan yang disambung-sambung dan tanpa cadik (penyeimbang), sementara masyarakat nelayan Pantai Selatan Jawa membuat perahu dari kayu gelondongan dengan memakai cadik. Hal ini menunjukan bahwa kebutuhannya sama yaitu tentang suatu alat (tools) untuk berlayar dalam rangka menangkap ikan (baik masyarakat Pantai Utara maupun Selatan) untuk memenuhi kebutuhan hidupnya (needs), tetapi karena tantangan alam yang berbeda maka penciptaan teknologipun berbeda, demikian pula dalam aspek kehidupan lainnya.
Definisi kebudayaan
Kebudayaan Berasal dari bahasa Sansekerta buddhayah yang merupakan bentuk jamak dari buddhi yang berarti budi atau akal. Kebudayaan diartikan sebagai “hal-hal yang bersangkutan dengan budi atau akal”. Culture merupakan istilah bahasa asing yang sama artinya dengan kebudayan, berasal dari kata latin colere. Artinya mengolah atau mengerjakan, yaitu mengolah sawah atau bertani.
Menurut E.B. Tylor (1871):
Kebudayaan adalah kompleks yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat-istiadat dan lain kemampuan-kemampuan serta kebiasaan-kebiasaan yang didapatkan oleh manusia sebagai anggota masyarakat.
Menurut Selo Soemarjan dan Soelaeman Soemardi:
Kebudayaan sebagai semua hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat. Karya masyarakat mengasilkan teknologi dan kebudayaan kebendaan atau kebudayaan jasmaniah (material culture) yang diperlukan oleh manusia untuk menguasai alam sekitarnya, agar kekuatan serta hasilnya dapat diabadikan untuk keperluan masyarakat.
Dari berbagai definisi tersebut, dapat diperoleh pengertian mengenai kebudayaan yang mana akan mempengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak. Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat.
Wujud dan komponen budaya
Wujud budaya
Menurut J.J. Hoenigman, wujud kebudayaan dibedakan menjadi tiga: gagasan, aktivitas, dan artefak.
• Gagasan
Wujud ideal kebudayaan adalah kebudayaan yang berbentuk kumpulan ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan, dan sebagainya yang sifatnya abstrak; tidak dapat diraba atau disentuh. Wujud kebudayaan ini terletak dalam kepala-kepala atau di alam pemikiran warga masyarakat. Jika masyarakat tersebut menyatakan gagasan mereka itu dalam bentuk tulisan, maka lokasi dari kebudayaan ideal itu berada dalam karangan dan buku-buku hasil karya para penulis warga masyarakat tersebut.
• Aktivitas
Aktivitas adalah wujud kebudayaan sebagai suatu tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat itu. Wujud ini sering pula disebut dengan sistem sosial. Sistem sosial ini terdiri dari aktivitas-aktivitas manusia yang saling berinteraksi, mengadakan kontak, serta bergaul dengan manusia lainnya menurut pola-pola tertentu yang berdasarkan adat tata kelakuan. Sifatnya konkret, terjadi dalam kehidupan sehari-hari, dan dapat diamati dan didokumentasikan.
• Artefak
Artefak adalah wujud kebudayaan fisik yang berupa hasil dari aktivitas, perbuatan, dan karya semua manusia dalam masyarakat berupa benda-benda atau hal-hal yang dapat diraba, dilihat, dan didokumentasikan. Sifatnya paling konkret diantara ketiga wujud kebudayaan.
Perubahan sosial budaya
Menurut Soekanto, Definisi lain dari perubahan sosial adalah segala perubahan yang terjadi dalam lembaga kemasyarakatan dalam suatu masyarakat, yang mempengaruhi sistem sosialnya. Tekanan pada definisi tersebut adalah pada lembaga masyarakat sebagai himpunan kelompok manusia dimana perubahan mempengaruhi struktur masyarakat lainnya. Perubahan sosial terjadi karena adanya perubahan dalam unsur-unsur yang mempertahankan keseimbangan masyarakat seperti misalnya perubahan dalam unsur geografis, biologis, ekonomis dan kebudayaan. Perubahan sosial merupakan bagian dari perubahan budaya. Perubahan dalam kebudayaan mencakup semua bagian, yang meliputi kesenian, ilmu pengetahuan, teknologi, filsafat dan lainnya. Akan tetapi perubahan tersebut tidak mempengaruhi organisasi sosial masyarakatnya. Ruang lingkup perubahan kebudayaan lebih luas dibandingkan perubahan sosial.
Perubahan kebudayaan bertitik tolak dan timbul dari organisasi sosial. Pendapat tersebut dikembalikan pada pengertian masyarakat dan kebudayaan. Masyarakat adalah sistem hubungan dalam arti hubungan antar organisasi dan bukan hubungan antar sel. Kebudayaan mencakup segenap cara berfikir dan bertingkah laku, yang timbul karena interaksi yang bersifat komunikatif seperti menyampaikan buah pikiran secara simbolik dan bukan warisan karena keturunan. Apabila diambil definisi kebudayaan menurut Taylor dalam Soekanto, kebudayaan merupakan kompleks yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum adat istiadat dan setiap kemampuan serta kebiasaan manusia sebagai warga masyarakat, maka perubahan kebudayaan dalah segala perubahan yang mencakup unsur-unsur tersebut. Soemardjan, mengemukakan bahwa perubahan sosial dan perubahan kebudayaan mempunyai aspek yang sama yaitu keduanya bersangkut paut dengan suatu cara penerimaan cara-cara baru atau suatu perbaikan dalam cara suatu masyarakat memenuhi kebutuhannya.
Untuk mempelajari perubahan pada masyarakat, perlu diketahui sebab-sebab yang melatari terjadinya perubahan itu. Apabila diteliti lebih mendalam sebab terjadinya suatu perubahan masyarakat, mungkin karena adanya sesuatu yang dianggap sudah tidak lagi memuaskan. Menurut Soekanto, penyebab perubahan sosial dalam suatu masyarakat dibedakan menjadi dua macam yaitu faktor dari dalam dan luar. Faktor penyebab yang berasal dari dalam masyarakat sendiri antara lain bertambah atau berkurangnya jumlah penduduk, penemuan baru, pertentangan dalam masyarakat, terjadinya pemberontakan atau revolusi. Sedangkan faktor penyebab dari luar masyarakat adalah lingkungan fisik sekitar, peperangan, pengaruh kebudayaan masyarakat lain. Hirschman mengatakan bahwa kebosanan manusia sebenarnya merupakan penyebab dari perubahan.
Penetrasi kebudayaan
Yang dimaksud dengan penetrasi kebudayaan adalah masuknya pengaruh suatu kebudayaan ke kebudayaan lainnya. Penetrasi kebudayaan dapat terjadi dengan dua cara:
Penetrasi damai (penetration pasifique)
Masuknya sebuah kebudayaan dengan jalan damai. Misalnya, masuknya pengaruh kebudayaan Hindu dan Islam ke Indonesia. Penerimaan kedua macam kebudayaan tersebut tidak mengakibatkan konflik, tetapi memperkaya khasanah budaya masyarakat setempat. Pengaruh kedua kebudayaan ini pun tidak mengakibatkan hilangnya unsur-unsur asli budaya masyarakat.
Penyebaran kebudayaan secara damai akan menghasilkan Akulturasi, Asimilasi, atau Sintesis.
Akulturasi adalah bersatunya dua kebudayaan sehingga membentuk kebudayaan baru tanpa menghilangkan unsur kebudayaan asli. Contohnya, bentuk bangunan Candi Borobudur yang merupakan perpaduan antara kebudayaan asli Indonesia dan kebudayaan India.
Asimilasi adalah bercampurnya dua kebudayaan sehingga membentuk kebudayaan baru.
Sintesis adalah bercampurnya dua kebudayaan yang berakibat pada terbentuknya sebuah kebudayaan baru yang sangat berbeda dengan kebudayaan asli.

Penetrasi kekerasan (penetration violante)
Masuknya sebuah kebudayaan dengan cara memaksa dan merusak. Contohnya, masuknya kebudayaan Barat ke Indonesia pada zaman penjajahan disertai dengan kekerasan sehingga menimbulkan goncangan-goncangan yang merusak keseimbangan dalam masyarakat.

pengagum gila

Aku Hanya pengagum yang hampir gila,,,hanya mampu memandangi tanpa menatap mata…

Aku hanya pengagum yang sedikit gila,,,mempunyai ilusi dan fantasi yang tak seharusnya…

Aku hanya pengagum yang sudah gila,,,menolak mmengakui iya walau ada rasa…

Aku hanya pengagum yang sangat gila,,,tak mampu mengungkap dengan bijaksana

…dan…

Aku hanya pengagum yang sangat amat gila,,,yang lupa bahhwa aku adalah senyawa dengan bidadari disana

… sedianya…

aku ada di garis tangannya…

diantara 1/3 malamnya…

(now ang)

  • Kalender

    • Desember 2016
      S S R K J S M
      « Jul    
       1234
      567891011
      12131415161718
      19202122232425
      262728293031  
  • Cari